IntelliPaper
Abstract
Culture as knowledge collective, has stored in minds every human. Function language as practices culture among otheralso forexplains meaning sayings . Languagecan be said alsoas wrong one wealth spiritual that owns by a group of humans and together saidspeech commmunity. On 's research focused on studyconducted atVillage Kesamben ,Ngadum as wrong one focus study . On data interviews thatobtained ,community village Kesamben is still is very is thick will tradition which has, tradition which still maintained until now is calculation Petung Weton as wrong one thingwhich is obliged to be taken into account to bride woman and man when will starts a lives new. In research this uses study anthropolinguistics withfocuses on form and meaning
Explore Digital Article Text
I. INTRODUCTION
Antropolinguistik merupakan sebuah kajian ilmu yang memiliki sifat interpretatif, yakni memiliki cakupan yang lebih jauh untuk mengupas fenomena bahasa dalam kebudayaan serta mendeskripsikan suatu cultural understanding (pemahaman budaya). Sementara itu, Duranti menyatakan bahwa antropologi linguistik adalah "study of language as a cultural resource and speaking as a cultural practice", yang dapat diterjemahkan: kajian atas bahasa sebagai sumber daya budaya dan tuturan sebagai praktik budaya. Dengan kata lain, kebudayaan sebagai pengetahuan kolektif, telah tersimpan dalam pikiran setiap manusia. Fungsi bahasa sebagai praktik budaya antara lain juga untuk menjelaskan makna tuturan. Bahasa dapat dikatakan pula sebagai salah satu kekayaan rohani yang dimiliki oleh sekelompok manusia dan guyub tutur (speech community). Sumber daya kebudayaan yang digunakan dalam bahasa direalisasikan dalam bentuk tuturan maupun tulisan (Almos, 2015:45-46).
Kebudayaan dan masyarakat jawa yang beragam ditandai dengan adanya kesamaan identitas baik secara fisik maupun dalam hal-hal yang lebih abstrak. Kesamaan identitas secara fisik terindra melalui adanya fisiognomi yang dihasilkan oleh suatu klan/suku/marga dan produk budaya. Sementara itu kesamaan yang bersifat abstrak berupa pandangan hidup, cara berfikir, susunan masyarakat, kepercayaan, dan lain sebagainya. Salah satu bentuk kesamaan dalam pandangan hidup dan kepercayaan masyarakat jawa dapat diamati pada upacara adat pernikahan. Masyarakat jawa memandang pernikahan sebagai salah satu rangkaian istimewa yang terdapat dalam perjalanan kehidupan manusia, yang bersifat sacral (keramat atau suci) dan dapat mendatangkan kebaikan, keberuntungan, keberkahan, keburukan, dan lain sebagainya.
Pada masyarakat jawa, terdapat budaya pernikahan yang menggunakan perhitungan tanggal lahir sebagai penentu apakah jodohnya akan memiliki takdir baik atau tidak kedepannya. Perhitungan tanggal dalam menentukan pasangan ini disebut dengan weton. Adapun tujuan utama perhitungan weton dalam pernikahan adat jawa adalah untuk mencari hari joyo atau hari baik yang dimiliki oleh pengatin pria dan pengantin wanita. Secara agamawi semua hari yang diciptakan oleh Tuhan aalah hari yang baik dan memiliki daya atau kekuatan. Akan tetapi masyarakat jawa meyakini bahwa Tuhan memberi wewenang kepada manusia untuk memilih sendiri hari yang dinilai paling baik atau tepat untuk pelaksanaan pernikahan. Konsep hari baik bagi masyarakat Jawa adalah waktu-waktu tertentu yang dianggap sebagai bentuk usaha untuk mendatangkan kelancaran dan keselamatan dalam melaksanakan pernikahan. beberapa kajian yang mengacu pada tradisi lisan yaitu beranalogi pada sosiolinguistik, psikolinguistik, dan neurolinguistik, istilah yang lebih netral untuk digunakan adalah antropolinguistik (Sibarani, 2004:50).
Berdasarkan ulasan wawancara peneliti kepada salah satu calon temanten masyarakat Jawa di Jombang hingga kini masyarakat di Desa Kesamben Masih lekat dengan tradisi weton tersebut. Penentuan weton sebagai tradisi nenek moyang yang di wariskan turun temurun tidak disertai dengan refleksi secara ilmiah untuk membuktikan kebenaran dari tradisi tersebut, menggambarkan bahwa perilaku masyarakat desa Kesamben adalah tipe tindakan tradisional (Ritzer, 2012:200) yang berorientasi pada nilai, yaitu nilai keselamatan dan keberkahan.
Adapun penelitian terdahulu yang dikemukakan oleh Robert Sirabani yang mengkaji tentang Pendekatan Antropolinguistik Terhadap Kajian Tradisi Lisan yang berfokus pada tentang bagaimana kajian antropolinguistik mampu membedah suatu tradisi lisan dan menghasilkan suatu analisis yang apik dari hubungan keduanya. Dalam pembahasan ada tiga pendekatan utama dalam kajian antropolinguistik yaitu performansi (performance), indeksikalitas (indexicalty), partisipasi (participation), yang terbukti efektif dalam mengkaji hubungan struktur teks, koteks dan konteks (budaya, ideologi, sosial, dan situasi) suatu tradisi lisan yang dilatarbelakangi unsur-unsur budaya dan aspek kehidupan manusia yang berbeda-beda.
Berdasarkan pemaparan pendahuluan di atas, penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut 1) Bagaimana bentuk perhitungan weton dalam pernikahan adat Jawa? 2) Bagaimana makna perhitungan weton dalam pernikahan adat Jawa?
II. THEORETICAL
2.1 Understanding Calculation Weton
Secara harfiah weton memiliki arti hari kelahiran, sedangkan dalam bahasa Jawa weton berasal dari kata Wetu dengan makna keluar atau lahir, lalu kata Wetu diberi imbuhan -an sehingga berubah bentuk dari kata sifat menjadi kata benda (Ranowidjojo, 2009:17). Weton adalah sebuah penggabungan, penyatuan, atau penjumlahan hari lahir seseorang yaitu hari ahad, senin, selasa, dan seterusnya dengan hari pasaran yaitu legi, pahing, pon, dan seterusnya. Perhitungan weton memberikan dampak pada perhitungan baik dan buruk, dan sesuai dengan falsafah masyarakat Jawa yang mengedepankan kesesuaian, keselarasan dan kecocokan. Apabila terdapat ketidakcocokan pada neptu (hitungan pasaran), maka pernikahan tersebut sebaiknya dibatalkan saja untuk mencegah berbagai macam bencana seperti susah rezeki, sakit-sakitan dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, dan dampak lebih jauh lagi ialah mendapatkan pengucilan dari kelompok masyarakat. Perhitungan weton dijadikan sebagai acuan dalam menentukan baik tidaknya suatu hubungan, menentukan jodoh yang baik, dan memilih hari yang baik untuk melaksanakan pernikahan.
2.2 Marriage in Perspective Java
Latar belakang sejarah nenek moyang masyarakat Jawa yang merupakan penganut animisme, juga mempengaruhi pandangan mereka tentang pernikahan. Bagi masyarakat Jawa pernikahan tidak hanya dimaknai oleh orang yang masih hidup saja, akan tetapi para leluhur dari pasangan juga memiliki peran. Keluarga yang masih hidup meminta doa restu kepada para leluhur, supaya berkenan memberkati pasangan yang hendak menikah agar mendapatkan kebahagiaan setelah pernikahan sampai pada kekekanan. Dalam perspektif masyarakat Jawa, pernikahan adalah penyatuan dua keluarga dan dianggap sebagai pelestarian tradisi. Selain itu, pernikahan juga memiliki makna simbolis sebagai bentuk doa agar kedua bela pihak mendapatkan yang terbaik.
2.3 Definition Form, Meaning, and Function
Menurut KBBI makna adalah pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Terdapat 3 corak makna yaitu, 1) makna inferensial adalah makna satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang ditunjuk oleh kata tersebut; 2) makna yang menunjukkan arti (significance) merupakan suatu istilah yang dihubungkan dengan konsep- konsep yang lain; 3) makna infensional, merupakan makna yang dimaksud oleh pemakai simbol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa makna adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh suatu kata yang dihubungkan dengan yang ditujukan simbol atau lambang.
Bentuk adalah satuan-satuan yang mengandung arti baik berupa gramatikal maupun leksikal. Bentuk-bentuk dalam penelitian ini adalah yang terdapat dalam weton. Sedangkan fungsi adalah hubungan antar satuan dengan unsur-unsur gramatikal, leksikal, fonologis, atau peran sebuah unsur bahasa yang lebih luas. Penelitian ini lebih berfokus pada penyingkapan fungsi perhitungan weton dalam pernikahan saja.
2.4 Theory Semiology Ferdinand de Saussure
Teori yang akan digunakan adalah teori Semiologi Ferdinan De Saussure yang mengkaji makna tanda dalam kehidupan sosial manusia yang terbentuk oleh pengaruh sistem atau hukum yang berlaku di dalamnya. Menurut teori Saussure aspek peranan bahasa merupakan hal yang paling disoroti dalam pembentukan dan pelestarian tanda dalam masyarakat. Teori Saussure ini lebih lanjut dikembangkan oleh Roland Barthless melalui teori Semiotika yang menghasilkan dua dua tanda yaitu denotasi (makna pasti) dan konotasi. Keterkaitan teori tersebut dengan penelitian ini adalah upaya untuk mengetahui makna dari tradisi weton pada pernikahan dengan memanfaatkan pendekatan budaya melalui tanda denotasi yaitu tanda yang paling nyata dan tanda konotasi berhubungan dengan kenyataan atau emosi dari penafsir weton yang memiliki nilai subjek atau intersubjektif dari sebuah kebudayaan. Sedangkan untuk penentuan makna simbolik berhubungan dengan nilai-nilai atau pesan yang terkandung pada proses pemilihan ataupun penentuan weton untuk pernikahan. Kemudian untuk menyingkap fungsifungsi apa saja yang terkandung dalam tradisi weton untuk pernikahan.
2.5 Anthropolinguistics
Pemahaman tentang antropolinguistik sebagai ilmu interdisipliner mendapat perhatian dari para pakar antropologi atau pakar linguistik yang mengaitkan hubungan antara bahasa dengan aspek-aspek kehidupan manusia termasuk kebudayaan.Hymes (1964: 277) mendefinisikan antropologi linguistik sebagai studi tentang berbahasa dan bahasa dalam konteks antropologi. Antropolinguistik membedakan proses berbahasa (speech) dari bahasa (language) sebagai bagian dari kajian seluk-beluk kehidupan manusia. Dalam kajian antropolinguistik, proses berba-hasa sebagai hakikat bahasa yang berwujud kelisanan dan bahasa itu sendiri sebagai alat berbahasa kedua-duanya menjadi objek kajiannya.Dalam hal ini, pembedaan bahasa sebagai performansi dan bahasa sebagai alat komunikasi menjadi sangat penting.
Sebagai bagian dari performansi komunikasi dan aktivitas sosial, Duranti (1997:2) mendefinisikan antropologi lin- guistik sebagai ilmu yang mempelajari bahasa sebagai sumber budaya dan yang mempelajari berbahasa atau berbicara sebagai praktik budaya. Hal ini, bahasa (language) dianggap menyimpan ke- budayaan sebagai seluk-beluk kehidupan manusia yang paling inti dan berbahasa (speaking) sebagai performansi aktivitas sosial budaya.
III. METHODS
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif Penelitian kualitatif adalah penelitian alamiah yang digunakan dalam konteks tertentu untuk menggali dan memahami suatu fenomena atau peristiwa yang sedang dialami oleh subjek penelitian (Herdiansyah, 2020). Penggunaan pendekatan kualitatif ini mempertimbangkan kemungkinan data yang diperoleh di lapangan yang berupa data dalam bentuk fakta yang perlu di analisis secara mendalam. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi instrumen utama dalam pengumpulan data yang berhubungan langsung dengan instrumen atau objek penelitian. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan deksriptif kualitatif. Data primer dalam penelitian ini adalah teks yang diindera, seperti nama-nama weton itu sendiri, untuk dianalisis secara linguistik dan budaya. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara.
IV. RESULTS AND DISCUSSION
4.1 Determination Weton Marriage
"Apakah pada zaman ini, weton masih digunakan sebagai penentu dalam memilih seorang pasangan?
DATA 1: Di daerah saya sendiri hal tersebut masih sangatlah menjadi sesuatu yang memang diharuskan, apalagi jika ada beberapa keluarga yang memang masih sangat menjaga tradisi yang ada. Masyarakat percaya bahwa hal tersebut guna untuk memilih dan menetapkan hari baik/tidak baik dalam calon pengantin itu sendiri. "wawancara Bpk. Huda".
Pada dasarnya tradisi yang berkembang dalam suatu masyarakat memang akan terus terjaga ketika para masyarakat yang ada juga terus melestarikan apa yang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Weton sendiri menjadi suatu hal yang memang wajib dilakukan pada suatu golongan masyarakat. Weton berarti hari kelahiran sesuai dengan hari Pasaranya. Hari Pasaran Merupakan hari jawa yang terdiri dari 5 hari saja, yakni Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Kelima hari tersebut biasa dinamakan dengan hari Pasaran. Dinamakan hari pasaran dikarenakan dahulu mula yang masing-masing nama tersebut digunakan sebagai nama untuk menentukan dibukanya pasar bagi para pedagang, sehingga pada hari ditetapkannya tersebut suatu pasar akan banyak kunjungan pedagang untuk menjual dagangannya, dan sangat ramai pembeli yang berkunjung dan berbelanja dipasar tersebut. Apabila mengungkap dari leluhur pada zaman dahulu, penyebutan nama 5 hari pasaran tersebut diangkat dari nama 5 roh. Adapun nama-nama roh tersebut antara lain: Batara Legi, Batara
Paing, Batara Pon, Batara Wage, dan Batara Kliwon. Kelima roh tersebut merupakan bagian pokok dari jiwa manusia yang sudah menjadi suatu pengetahuan dan keyakinan leluhur orang jawa sejak jaman purbahingga saat ini.
"Apa yang akan terjadi jika kita tidak melakukan perhitungan dengan menggunakan Weton? Apakah aka nada hal buruk atau justru Weton hanya berperan sebagai hal yang belum terbukti kebenarannya?"
DATA 2: "Secara garis besar begini, setiap masyarakat memiliki kepercayaannya masing-masing. Kita pun tidak bisa memaksakan seseorang untuk ikut dengan apa yang kita percayai, hanya saja dalam kalangan masyarakat jawa memang hal tersebut akan terus berkembang. Jikapun memang dilanggar biasanya akan ada hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi hal-hal tersebut dalam masyarakat jawa masih bisa diatasi dengan beberapa cara. Seperti halnya dalam perhitungan jawa jika hasilnya bertemu "25" maka diupayakan untuk tidak dilanjutkan karena ditakutkan banyak hal buruk yang akan terjadi dikemudian hari. Jangan menggunakan hari cuplak (hari ketika putusnya tali pusar si bayi). Umumnya 5 hari. Misalnya Selasa pon (Rabu, Kamis, Jum at, Sabtu, Minggu) hari Minggu ini tidak boleh dipakai untuk pernikahan karena hari Minggu ini adalah hari cuplak. Lalu kalo tidak tahu hari cuplak ya diperkirakan 5 hari Sampai 1 Minggu. Kedua mempelai tidak boleh menggunakan hari cuplak ya. Setiap daerah itu hitungannya berbeda-beda. Misalnya di tulungagung tidak boleh memakai geblak bapaknya (hari kematian bapaknya).
Pada data (2), dijabarkan bahwa pro dan kontra yang terjadi dalam lingkup masyarakat akan timbul pada saat penentuan Weton tersebut. Pada dasarnya kepercayaan pada diri manusia sangatlah sulit dihilangkan, apalagi jika kepercayaan tersebut telah menjadi budaya turun temurun. Pada penentuan Weton pernikahan dijabarkan bahwa perhitungan tersebut tidak selalu menghasilkan hal yang baik. Dalam adat
Jawa, terdapat beberapa larangan. Ada keyakinan orang apabila memiliki weton dan neptu tertentu tidak boleh sembarangan menikah. Karena apabila memaksakan kehendaknya akan berdampak buruk di dalam rumah tangganya. Berdasarkan Primbon Jawa terdapat beberapa pasangan weton yang pantangan menikah karena memiliki watak dan karakter yang sulit untuk disatukan.
Kedua pemilik weton itu pada dasarnya memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Ibaratnya weton Wage adalah minyak dan weton Pahing adalah air. Jika keduanya disatukan maka sulit untuk menyatu. Apabila kedua weton ini tetap memutuskan untuk menikah maka kemungkinan kehidupan rumah tangganya tidak harmonis, dipenuhi konflik, perselisihan dan mungkin juga berakhir dengan perceraian. Selain weton, soal jodoh, nikah dan banyak hal lain bagi orang-orang yang percaya dengan primbon dapat dihitung dari neptu. Neptu adalah nilai angka dari satu weton dengan menjumlahannya berdasarkan hari pasaran. Nilai neptu berkisar antara 7 hingga 18. Bagi pasangan yang angka neptunya apabila dijumlahkan menjadi 25 maka harus hati-hati. Bahwa itu bukan pertanda baik. Orang-orang yang percaya dengan hitungan ini menyarankan agar perlahan menjauh. Pasangan dengan neptu 25 diyakini merupakan salah satu dari pasangan yang tidak dianjurkan menikah. Hal ini karena, pasangan itu nanti kurang mendapatkan keberuntungan dalam rumah tangga. Hitungan weton bagi calon mempelai yang akan melangsungkan pernikahan yaitu menyangkut keserasian calon mempelai dalam membangun rumah tangga.
4.2 Meaning of Petung Weton
a. Pegat (Divorced)
Pasangan yang hasil perhitungannya pegat akan menghadapi masalah yang berujung pada perceraian yang disebabkan oleh faktor ekonomi maupun perselingkuhan yang kemungkinan besar dapat menyebabkan perceraian. Pegat bukan hasil perhitungan yang baik. Weton ini banyak dihindari dikarenakan kemungkinan terburuk dalam perkawinan yang akan dijalani yaitu cerai. Kalau pasangan yang weton nya jatuh di pegat ada sisa empat dalam hitungan jawa yaitu sandang, pangan, papan, lara. Cara mengatasi perkawinan yang jatuh pegat, ada beberapa unsur yaitu sanggar waringin, lembu katiup angin, dan bumi kapetak. Sebelum melakukan pernikahan hindari hitungan tentang tibo wangke atau jatuh buntel mayit, jangan mengikuti nagahari yaitu cara pemasangan tenda (tarup). Solusinya ialah diwajibkan untuk memperbanyak berbagi kepada anak yatim piatu dan juga janda-janda jompo. Semua ketetapan hanya milik Allah, semua Allah yang menentukan. Pasangan yang hasil weton nya mendapat pegat usahakan untuk memperbanyak ikhtiar dan berdoa.
b. Ratu (Queened)
Sesuai dengan namanya, pasangan yang hasilnya ratu berarti pasangan ini akan hidup seperti seorang ratu atau diratukan dengan harta dan hidup harmonis, pasalnya pada pasangan ini sudah ditakdirkan untuk berjodoh sehingga disegani, dan dihargai oleh masyarakat. Pasangan ini juga membuat iri sebagian orang karena rumah tangga yang dibangunnya begitu damai. Hitungan weton ratu ini merupakan satuan yang istimewa, karena secara hitungan bagus. Weton ini merupakan salah satu hitungan jodoh yang paling bagus diantara hitungan weton yang lainnya. Dimana pasangan yang memperoleh hasil hitungan ratu ini merupakan jodoh sejati.
c. Jodho (Partner)
Jodoh artinya pasangan ini dipercaya dapat membangun rumah tangga yang harmonis hingga akhir hayat dimana hasil dari jodoh ini menunjukkan kesamaan yang dimiliki pada pasangan dan sudah ditakdirkan untuk berjodoh, pasangan yang mendapat hitungan ini dapat saling menerima kelebihan serta kekurangan pasangan. Bagi masyarakat jawa, weton jodoh ini dipercaya memberikan gambaran kecocokan pada pasangan yang akan berencana untuk melangsungkan pernikahan. Perhitungan dari weton jodoh ini meramalkan dua insan yang akan bersatu. Weton ini merupakan hasil hitung yang baik untuk pasangan yang mendapatkan perhitungan jodoh.
d. Topo (Problem)
Pada hitungan topo ini kehidupan awal rumah tangga yang dibina akan menemui banyak masalah, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan selama pasangan tersebut bisa bertahan rumah tangganya akan berjalan baik-baik saja dan harmonis, masalah yang dihadapi oleh pasangan ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya ialah ekonomi, namun ketika pasangan ini sudah memiliki keturunan dan lamanya berkeluarga akan membuat kehidupannya berakhir bahagia. Pasangan yang jatuhnya di tibo topo banyak prihatin, banyak mengahadapi cobaan, dan godaan. Pasangan yang tidak mampu untuk melewati permasalahan seperti banyaknya cobaan dan godaan yang terjadi di awal pernikahannya bisa cerai, namun sebaliknya. Pasangan yang perhitungannya jatuh pada topo harus tau bagaimana cara menyikapi permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangganya.
e. Tinari (Happy)
Perhitungan hasil tinari ini pasangan ditafsirkan akan hidup bahagia dengan kondisi keuangan yang berkecukupan yang membawa hidupnya untuk mencapai sebuah kebahagiaan serta diberikan kemudahan dalam mencari rezeki dan hidup yang dijalani oleh pasangan ini tidak mengalami suatu kesulitan dan keluarga yang dibangunnyapun harmonis. Weton yang jatuh pada perhitungan tinari ini hasil dari perpaduan weton jodoh. Pasangan yang mendapat weton ini dipercaya hidupnya akan selalu diselimuti oleh keberuntungan. Masyarakat jawa beranggapan bahwa weton tinari lebih baik daripada weton jodoh. Menurut primbon jawa kesuksesan pasangan di kemudian hari dapat ditentukan menggunakan salah satu bagian dari pedoman neptu, yaitu Tinari.
f. Padu (Quarrel)
Kehidupan rumah tangga pada hasil perhitungan padu ini akan sering terjadi pertengkaran atau cekcok. Ada kemungkinan pasangan dengan hasil padu ini dapat berpisah, namun hal tersebut tergantung pada pasangan pengantin dalam menghadpinya, karena pemicu dari pertengkaran ini hanyalah suatu masalah sepele. Masyarakat jawa percaya jika pasangan yang mendapat hitungan weton ini akan selalu cek-cok. Pasangan yang mendapat weton padu ini dinilai tidak cocok. Hal tersebut dapat dihindari dengan melakukan ruwatan atau memilih hari pernikahan khusus dan tertentu. Cara tersebut dipercayai dapat meminimalkan kesialan yang dapat terjadi dikemudian hari akibat ketidakcocokan weton pasangan.
g. Sujanan (Affair)
Sujanan memiliki makna yang mirip dengan padu. Dalam kehidupan rumah tangga sujanan ini pasangan pengantin akan mengalami masalah dengan perselingkuhan maupun pertengkaran, hal tersebut dapat disebabkan dari pihak laki-laki yang berselingkuh maupun dari pihak perempuan yang memicu perselingkuhan dalam keluarga yang dibinanya tersebut. Weton ini sangat dihindari oleh pasangan yang mendapat perhitungan jodoh sujanan, banyak masyarakat jawa yang memilih untuk tidak melanjutkan pernikahan akibat weton yang didapat memiliki makna yang tidak bagus. Masyarakat jawa percaya bahwa weton sujanan ini dapat mengandaskan rumah tangga yang dibina.
h. Pesthi (Harmonious)
Pesthi yaitu keluarga yang Sakinah, Mawadah, dan Warohmah. Kehidupan rumah tangga dari perhitungan pesthi ini nantinya akan selalu aman, damai, dan tentram serta rukun sampai tua. Meskipun di dalam rumah tangga terdapat suatu masalah namun hal tersebut tidak menjadikan rusaknya keharmonisan yang ada pada rumah tangganya. Hitungan jawa ini menurut masyarakat jawa yang agamis adalah yang terbaik karena kebahagiaan yang tercipta oleh pasangan bukan hanya di dunia saja, namun juga diakhirat. Pasangan yang mendapat hitungan jawa pesthi diyakini hidupnya akan harmonis. Masyarakat jawa banyak menginginkan hitungan jumlah weton yang didapatkanannya pesthi karena ingin membangun rumah tangga yang harmoni.
V. CONCLUSION
Dari pembahasan di atas dapat ditarik simpulan bahwa antropolinguistik mengkaji tradisi dalam beberapa tahapan. Tahapan yang dipaparkan di tekankan pada pengkajian dalam perhitungan Petung Weton Pernikahan adat jawa. Terdapat makna leksikal dalam perhitungan weton, yakni pegat adalah cerai atau berpisah, ratu adalah pasangan akan disegani, jodoh adalah pasangan akan rukun karena cocok/berjodoh, topo adalah pasangan akan sering mengalami kesusahan di awal tapi akan bahagia pada akhirnya, tinari adalah pasangan akan dipenuhi kebahagiaan, padu adalah pasangan akan sering terjadi perkelahian, sujanan adalah pasangan akan mengalami pertengkaran dan perselingkuhan, dan pesthi adalah pasangan akan rukun, tentram, damai sampai tua.Selain itu terdapat hari-hari pantangan atau dihindari dalam weton, yakni hari cuplak (Hari ketika putusnya tali pusar si bayi), Na'as tahun (Hari tidak baik), Tali wangke (Hari yang dinyatakan baik untuk mengikat segala jenis benda yang berhubungan dengan benda mati), Na'as nabi, Tragal tanggal, Na'as dino, Tanggal kosong (Selasa wage, Rabu wage, Kamis pon, Sabtu kliwon, dan Minggu pahing).
NEPTU KETEMU 25
| Selasa Wage | 7 | 18 | Sabtu Pahing | ||||
| Selasa Legi | 8 | 17 | Sabtu Kliwon | Kamis Pahing | |||
| Senin Wage | 8 | 17 | Sabtu Kliwon | Kamis Pahing | |||
| Minggu Wage | 9 | 16 | Sabtu Pon | Rabu Pahing | Kamis Kliwon | ||
| Senin Legi | 9 | 16 | Sabtu Pon | Rabu Pahing | Kamis Kliwon | ||
| Jumat Wage | 10 | 15 | Rabu Kliwon | Jumat Pahing | Kamis Pon | ||
| Minggu Legi | 10 | 15 | Rabu Kliwon | Jumat Pahing | Kamis Pon | ||
| Selasa Pon | 10 | 15 | Rabu Kliwon | Jumat Pahing | Kamis Pon | ||
| Senin Pon | 11 | 14 | Minggu Pahing | Rabu Pon | Jumat Kliwon | Sabtu Legi | |
| Rabu Wage | 11 | 14 | Minggu Pahing | Rabu Pon | Jumat Kliwon | Sabtu Legi | |
| Jumat Legi | 11 | 14 | Minggu Pahing | Rabu Pon | Jumat Kliwon | Sabtu Legi | |
| Selasa Kliwon | 11 | 14 | Minggu Pahing | Rabu Pon | Jumat Kliwon | Sabtu Legi | |
| Senin Kliwon | 12 | 13 | Kamis Legi | Senin Pahing | Jumat Pon | Sabtu Wage | Minggu Kliwon |
| Minggu Pon | 12 | 13 | Kamis Legi | Senin Pahing | Jumat Pon | Sabtu Wage | Minggu Kliwon |
| Rabu Wegi | 12 | 13 | Kamis Legi | Senin Pahing | Jumat Pon | Sabtu Wage | Minggu Kliwon |
| Selasa Pahing | 12 | 13 | Kamis Legi | Senin Pahing | Jumat Pon | Sabtu Wage | Minggu Kliwon |
| Kamis Wage | 12 | 13 | Kamis Legi | Senin Pahing | Jumat Pon | Sabtu Wage | Minggu Kliwon |
Rabu Legi = 7 + 5 = 12 Senin Pon = 4 + 7 = 11
23
HASIL WAWANCARA
Sesuai hasil wawancara pada bapak Huda selaku masyarakat yang masih mempercayai perhitungan weton, mereka melakukan perhitungan weton ini melalui orang yang dipercayai dapat melakukan perhitungan weton. Menurut bapak Huda perhitungan weton ini artinya tradisi keluarga yang semenjak dulu dilakukan ketika akan menikahkan anaknya, tetapi bapak Huda mempercayai hitungan weton ini bukan menjadi syarat primer dalam menikahkan anaknya melainkan hanya antisipasi saja. Jadi waktu yang akan terjadi perhitungan weton anaknya tersebut tidak baik atau jelek buat masa depannya,
| Nama narasumber: | Huda |
| Usia | 52 Tahun |
| Waktu wawancara: | 19 oktober, 2023 Pukul: 10.00 WIB |
| Tempat: | Keras, Jombang |
Pertanyaan: Kira-kira, dalam hal apa saja weton di gunakan?
Jawaban: Weton biasanya digunakan dalam menentukan hal-hal baik seperti dalam pernikahan, pertunangan, bahkan mencakup keberuntungan manusia. Namun, walaupun nyatanya bisa kita hitung sendiri, tetapi tetap saja yang faham adalah dukun-dukun yang ada.
Pertanyaan: Bagaimana cara menghitung weton
Jawaban: weton dihitung berdasarkan jumlah perhitungan antara diri sendiri dan pasangan. Perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah neptu dan pasaran yang ada. Jumlah yang didapatkan nantilah yang akan diperhitungkan apakah akan mendapatkan hal baik atau malah justru sebaliknya.
Pertanyaan: Apakah weton perlu dilakukan/dilaksanakan?
Jawaban: weton sendiri merupakan suatu tradisi yang memang sudah ada sejak turun temurun, tak heran jika pada perkembangan zaman seperti ini banyak manusia yang mulai meninggalkannya. Maka dari itu, semua kembali ke diri masing-masing, apakah akan masih berpatokan pada apa yang sudah ada atau justru punya keyakinan lain dalam menentukan nasib baik dan buruk manusia.
Pertanyaan: Bagaimana jika ada pasangan yang terkendala oleh weton?
Jawaban: beberapa hal yang memang dilarang dalam pernikahan Jawa memang sudah tertulis jelas adanya. Contoh kecil seperti jumlah weton yang berjumlah 25, maka kedua calon di larang untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, jikalaupun masih mau melanjutkan, maka ada beberapa persayaratan yang memang harus diwajibkan dilakukan oleh para calon mempelai.
Hal tersebut menjadi persyaratan wajib agar hidup yang mereka jalani mendapatkan berkah yang baik pula, contoh lain juga jika rumah calon mempelai berhadap-hadapan, hal tersebut juga dinilai akan membawa dampak buruk yang akan terjadi jika pernikahan tersebut tetap dilanjutkan.
Pertanyaan: Apa tujuan weton bagi masyarakat Jawa?
Jawaban: weton sendiri memiliki tujuan sebagai salah satu pedoman hidup bagi masyarakat yang khususnya Kejawen dan masih memegang erat kepercayaan atas nilai leluhur.
Pertanyaan: Adalah dampak jika kita tidak melaksanakan tradisi weton dalam adat Jawa?
Jawaban: seperti yang sudah saya sampaikan tadi, semua itu kini kembali kepada masyarakat atau orang yang bersangkutan, karena pada dasarnya setiap dari kita mempunyai kepercayaan dan pedoman hidup yang telah tertanam dalam diri sendiri. Jika dari awal kepercayaan atas weton telah ditanamkan maka tidak menutup kemungkinan bahwa hal-hal buruk yang datang bersumber dari hasil weton yang ditantang atau tidak dilaksanakan tadi di awal.
Conflict of Interest
The authors declare no conflict of interest.
Ethical Approval
Not applicable
Data Availability
The datasets used in this study are openly available at [repository link] and the source code is available on GitHub at [GitHub link].
Funding
This work did not receive any external funding.
References
Cite this article
Special Issue
Launch a focused special issue to highlight research, emerging trends, and expert insights in your academic field.
