Published On November 14, 2025
Journal Issue LJMHR Volume 25 Issue 9

The Differences of Night Eating Syndrome, Sleeping Pattern, and Sugar-Sweetened Beverage Consumption Habit based on Metholic Type in Obese Students

Dr. Anindita Putri Leksono
Dr. Anindita Putri Leksono
Article Fingerprint
Research ID IA0CD

IntelliPaper

Abstract

Background: The prevalence of obesity in students is currently increasing and it can lead to  metabolic syndrome at such a young age. The habit of students who have bad sleeping pattern, night  eating syndrome, and excessive SSB consumption can increase the risk of metabolic syndrome in  obese students. 

Purpose: The purpose of this research was to analyze the differences of night eating syndrome,  sleeping pattern, and consumption habit of sugar-sweetened beverage based on metabolic types in  obese students. 

Method: The research was conducted in July-September 2020 with female students in Semarang  City as subjects. This research used a case-control design, as many as 52 subjects aged 19-24 years  were selected by consecutive sampling method. The collected data included: body weight using  digital scales, height using a microtoise, waist size using a medline, blood pressure using a  tensimeter, and a laboratory tests was conducted to check triglyceride levels, HDL cholesterol,  fasting blood glucose, as well as insulin. The used instruments were The Night Eating Questioner  (NEQ) to assess the night eating syndrome, Pittsburg Sleep Quality (PSQI) to assess sleeping  pattern, and Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ) to see the subject's  consumption of sugar-sweetened beverage during the last one month. The data were analyzed using  Chi-Square test. 

Result: The research showed that majority of the subjects who experienced night eating syndrome  (46,2%) and bad sleeping pattern (61,5%) were subjects with Metabolically Unhealthy Obesity  (MUO). Meanwhile, for sugar-sweetened beverage consumption in Metabolically Healthy Obesity  (MHO) and Metabolically Unhealthy Obesity (MUO) were still within the normal range (86,4%). A  difference between night eating syndrome (p=0,006) and sleeping pattern (p=0,012) on  Metabolically Healthy Obesity (MHO) and Metabolically Unhealthy Obesity (MUO) was also  observed. 

Conclusion: Students with Metabolically Unhealthy Obesity (MUO) type were experiencing more  night eating syndrome and bad sleeping pattern compared to the students with Metabolically Healthy  Obesity (MHO) type. 

Explore Digital Article Text

Latar Belakang: Prevalensi obesitas pada mahasiswa semakin meningkat dan dapat menyebabkan sindrom metabolik di usia muda. Kebiasaan mahasiswa yang mempunyai night eating syndrome, pola tidur yang buruk, serta konsumsi sugar sweetened beverage yang berlebih dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik pada mahasiswa obese.

Metode: Penelitian dilakukan pada bulan Juli-September 2020 dengan subjek mahasiswi di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan desain case control, subjek sebanyak 52 orang dengan rentang usia 19-24 tahun dipilih dengan metode consecutive sampling. Data meliputi berat badan menggunakan timbangan digital, tinggi badan menggunakan microtoise, lingkar pinggang dengan menggunakan medline dan tekanan darah menggunakan tensimeter serta melakukan uji laboratorium untuk pemeriksaan kadar trigliserida, kolesterol HDL, glukosa darah puasa dan insulin. Instrumen yang digunakan adalah The Night Eating Questioner (NEQ) untuk menilai night eating syndrome, Pittsburg Sleep Quality (PSQI) untuk menilai pola tidur, dan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ) untuk melihat konsumsi sugar-sweetened beverage subjek selama 1 bulan terkahir. Data dianalisi dengan uji Chi Square

Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek yang mengalami night eating syndrome (46,2%) dan pola tidur yang buruk (61,5%) terjadi pada subjek metabolically unhealthy obese (MUO). Konsumsi sugar sweetened beverage pada kelompok metabolically healthy obese (MHO) dan metabolically unhealthy obese (MUO) masih sama dalam batas normal (86,4%). Terdapat perbedaan night eating syndrome (p=0,006) dan pola tidur (p=0,012) pada mahasiwa dengan tipe metabolik metabolically healthy obese (MHO) dan metabolically unhealthy obese (MUO)

Simpulan: Mahasiswa dengan tipe metabolik metabolically unhealthy obese (MUO) lebih banyak yang mengalami night eating syndrome dan gangguan pola tidur jika dibandingkan dengan mahasiswa yang mempunyai tipe metabolik metabolically healthy obese (MHO).

I. PENDAHULUAN

Obesitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh. Saat ini obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia. Namun tidak semua orang obese mempunyai metabolik yang buruk. Berdasarkan fenotipe obesitas terbagi menjadi metabolically healthy obese (MHO) dan metabolically unhealthy obese (MUO). Prevalensi obesitas sentral di Indonesia menurut Riskesdas 2018 mengalami peningkatan setiap tahunnya. Prevalensi obesitas sentral pada umur ≥15 tahun yaitu sebanyak 31%. Berdasarkan penelitian di Semarang tahun 2015 menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada remaja obesitas sebanyak 68,4%. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Universitas Diponegoro menunjukkan bahwa dari 37 mahasiswa yang dijadikan responden, terdapat 24,3% yang mengalami obesitas sentral, hal tersebut membuktikan kejadian obesitas sentral di kalangan mahasiswa tergolong tinggi.

Pengertian obesitas secara umum ialah penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan yang memberikan efek buruk pada kesehatan. Sindrom metabolik tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga terjadi pada remaja. Permasalahan sindrom metabolik pada remaja menunjukkan pentingnya deteksi dan manajemen dini. Penyakit jantung, penyakit pernapasan, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus sering dihubungakan dengan obesitas. Risiko dari penyakit-penyakit tersebut tergantung pada subjek memiliki obesitas dengan metabolik sehat - MHO atau obesitas dengan metabolik tidak sehat - MUO. Orang dengan MHO berisiko lebih rendah untuk terkena DM tipe 2 dan penyakit kardiovaskular dibandingkan orang dengan MUO. Komponen sindrom metabolik antara lain seperti tekanan darah sistolik dan diastolik yang tinggi, trigliserid tinggi, HDL rendah, GDS tinggi dan lingkar pinggang yang besar. Kriteria MHO yaitu memiliki IMT kg/m , tetapi tidak mengalami dislipidemia dan hipertensi, sedangkan MUO memiliki IMT kg/m dan memiliki 3 dari 5 kriteria komponen sindrom metabolik.

Beberapa penelitian menemukan bahwa pola tidur memiliki kontribusi terhadap meningkatnya obesitas terutama tidur yang kurang. Tidur yang kurang diduga akan menyebabkan gangguan regulasi hormonal terutama pengeluaran hormon leptin dan ghrelin yang berdampak pada pengaturan nafsu makan dan jumlah asupan makan. Suatu penelitian menyebutkan, bahwa tidur kurang dari 6 jam perhari dikaitkan dengan peningkatan lingkar pinggang, dan tidur lebih dari 10 jam dapat terjadi peingkatan trigliserida dan peningkatan gula darah puasa (GDP) pada wanita. Menurut National Sleep Foundation (NSF) pada tahun 2012 di Amerika, sekitar seperempat populasi orang dewasa mengalami masalah tidur, dan sekitar 6-10% memiliki gangguan insomnia. Survei selanjutnya yang diadakan oleh Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS) pada tahun 2008 dan 2009 melaporkan bahwa 35,3% dari 74.571 orang dewasa di 12 negara bagian Amerika Serikat tidur kurang dari 7 jam dalam sehari. Kebutuhan durasi tidur pada orang dewasa kurang lebih 8 jam perhari. Sebanyak 70,6% mahasiswa di Indonesia rata-rata mempunyai durasi tidur kurang dari 8 jam dalam sehari.

Mahasiswa pada umumnya memiliki aktivitas yang padat baik dalam bidang akademik maupun non akademik, sehingga seringkali menyebabkan tidur larut malam. Hal ini dapat meningkatkan risiko mengonsumsi makanan lebih banyak pada malam hari karena waktu sebelum tertidur yang lebih panjang. Kebiasaan makan di malam hari dapat memungkinkan terjadinya Night Eating Syndrome (NES) yang diartikan sebagai sindrom yang berpotensi menjadi salah satu jenis perilaku makan menyimpang baru. Night Eating Syndrome ditandai dengan tidak sarapan pagi, makan banyak pda malam hari yaitu mengkonsumsi 50% atau lebih dari asupan makan setelah jam 7 malam, dan insomnia. Penelitian di Swedia menyebutkan prevalensi orang yang mengalami NES pada orang obesitas sebanyak 8,4% pria dan 7,5% pada wanita. Makan malam dinilai lebih berperan menyebabkan kegemukan dibandingkan sarapan dan makan siang.

Saat ini sedang tren konsumsi minuman manis kekinian yang mewabah di kalangan mahasiswa atau dikenal sebagai sugar-sweetened beverage (SSB) yang merupakan minuman ringan dalam kemasan yang menambahkan pemanis berkalori tinggi sebagai salah satu bahan dalam minuman. Asupan dari SSB yang tinggi (>50 g/hari) diketahui berhubungan postif dengan peningkatan lingkar pinggang, trigliserida dan GDS. Ada beberapa studi menyatakan bahwa ada perbedaan konsumsi jenis makanan tertentu pada kelompok MHO dan MUO. Orang dengan MHO memiliki tingkat asupan gula yang lebih rendah dan minuman dengan penambahkan gula yang rendah dibandingkan orang dengan MUO. Pada salah satu penelitian cross-sectional pada 59 remaja berusia 15-18 tahun, ditemukan 72,9% subjek memiliki asupan tinggi SSB, 62,7% subjek memiliki trigliserida yang tinggi, dan 44,11% subjek memiliki lingkar pinggang yang besar.

Kebiasaan mahasiswa yang mempunyai pola tidur yang buruk, night eating syndrome serta konsumsi SSB yang berlebih dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik pada mahasiswa obese. Namun sayangnya penelitiaan yang fokus meneliti tipe metabolik yang kaitannya dengan night eating syndrome, pola tidur, dan kebiasaan konsumsi sugar-sweetened beverage masih jarang di Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan night eating syndrome, pola tidur, dan kebiasaan konsumsi sugar-sweetened beverage berdasarkan tipe metabolik pada mahasiswa obese.

II. METODE

Penelitian ini merupakan penelitian dalam lingkup gizi masyarakat yang menggunakan metode observasional dengan rancangan penelitian case control. Pengumpulan data dilakukan dalam rentang waktu Juli 2020 hingga September 2020. Pengambilan data dilakukan di Laboratorium Klinik CITO Setiabudi, Semarang. Penelitian ini telah memperoleh ethical clearance dari Komisi Bioetika Penelitian Kedokteran/Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang dengan No. 242/VII/2020/Komisi Bioetik.

Pengambilan data penelitian ini berlangsung saat masa pandemi, oleh sebab itu jaringan komunikasi untuk mencari subjek dilakukan melalui social media. Skrining subjek pada penelitian ini sebanyak 58 mahasiswa, kemudian dipilih 52 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi pada kelompok kontrol dan kelompok kasus. Terdapat 6 subjek drop out dikarenakan perbandingan jumlah subjek antara kelompok kasus dan kelompok kontrol harus sama, 6 subjek tersebut merupakan subjek dengan tipe metabolik MHO. Populasi target adalah seluruh mahasiswa di Jawa Tengah. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah mahasiswa di Kota Semarang. Penentuan besar subjek minimal berdasarkan rumus untuk penelitian case control yaitu dengan jumlah subjek minimal 22 mahasiswa dengan perkiraan drop out 10 menjadi 25 subjek. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling, yaitu dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian hingga kurun waktu tertentu hingga jumlah responden terpenuhi. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi subjek penelitian, berusia 19-24 tahun, tidak mengonsumsi alkohol, tidak merokok, memiliki Indeks Massa Tubuh ≥25 kg/m2 yang memiliki tiga atau lebih gejala kelainan metabolik seperti lingkar pinggang >80 cm, kadar trigliserida ≥150 mg/dl, kadar kolesterol HDL <50 mg/dl, tekanan darah ≥130/85 mmHg, dan kadar glukosa darah puasa ≥110 mg/dl serta resistensi insulin sebagai kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan Indeks Massa Tubuh ≥25 kg/m2 memiliki kurang dari 2 atau tanpa memiliki gejala kelaianan metabolik. Kriteria eksklusi yaitu mengundurkan diri selama penelitian dan sakit selama penelitian. Berdasarkan kriteria eksklusi yang disebutkan tidak ada subjek yang masuk dalam kriteria eksklusi tersebut.

Prosedur penelitian diawali dengan mengumpulkan mahasiswa di Kota Semarang dengan menyebarkan google form kemudian melakukan skrining awal untuk mencari subjek penelitian yang memenuhi kriteria yaitu mahasiswa di Kota Semarang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥25 kg/m2. Jika dari hasil skrining awal terdapat subjek yang memenuhi kriteria penelitian maka subjek tersebut akan diberikan sosialisasi penelitian, pengisian informed consent sebagai bentuk kesediaan untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan dan mengisi kuesioner identitas diri. Lalu, melakukan pengukuran antropometri berat badan menggunakan timbangan digital, lingkar pinggang dengan menggunakan medline dan tekanan darah menggunakan tensimeter serta melakukan uji laboratorium untuk pemeriksaan kadar trigliserida, kolesterol HDL, glukosa darah puasa dan insulin untuk melihat adanya kelainan metabolik. Selanjutnya mengelompokkan subjek dengan kelompok IMT obese tanpa kelainan metabolik dan IMT obese dengan tiga atau lebih kelainan metabolik. Setelah mengelompokkkan subjek kemudian memberikan The Night Eating Questioner (NEQ) untuk menilai night eating syndrome, Pittsburg Sleep Quality (PSQI) untuk menilai pola tidur, dan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ) untuk melihat konsumsi sugar sweetened beverage subjek selama 1 bulan terkahir.

Data yang telah terkumpul dilakukan uji Chi Square. untuk mengetahui perbedaan night eating syndrome, pola tidur, dan konsumsi sugar sweetened beverage pada individu MHO dan MUO dilakukan uji Chi Square. Tingkat ketelitian dalam analisis data yaitu sebesar 95% atau p value 0,05.

III. HASIL PENELITIAN

3.1 Karakteristik Subjek

Jumlah mahasiswa yang melakukan skrining pada penelitian ini berjumlah 58 subjek. Sampel yang didapatkan sesuai kriteria inklusi sebesar 52 orang dengan setiap kelompok sebesar 26 orang. Pada kelompok kontrol didapatkan sebanyak 26 mahasiswa dengan Indeks Massa Tubuh obese ( 25 kg/m ) dengan memiliki kelainan metabolik kurang dari 2 atau tanpa adanya kelainan metabolik sedangkan kelompok kasus didapatkan sebanyak 26 mahasiswa dengan Indeks Massa Tubuh obese ( 25 kg/m ) dengan setidaknya memiliki 3 atau lebih kelainan metabolik. Pada penelitian ini seluruh subjek berjenis kelamin perempuan.

{"image_source":{"path":"images/02fcc1f6cc869b8681579a1cb3bc809edb422f0e4fdb8033662991d5b85da829.jpg"},"content":"","chart_caption":[{"type":"text","content":"Diagram 1: Jumlah Subjek Berdasarkan Kategori MHO"}],"chart_footnote":[]}

Berdasarkan diagram 1. subjek obesitas dengan tipe metabolik MHO tidak ada yang memiliki o resiko, sebagian besar subjek mempunyai 2 kelainan komponen sindrom metabolik yaitu sebanyak 52% (13 subjek). Kelainan metaboliknya yaitu lingkar pinggang >80 cm dan resistensi insulin.

{"image_source":{"path":"images/fdf23ece0ac7364da4fbb51af6f1961cd6040f18857233ebd13fd2053095897b.jpg"},"content":"","chart_caption":[{"type":"text","content":"Diagram 2: Jumlah Subjek Berdarkan Kategori MUO"}],"chart_footnote":[]}

Berdasarkan diagram 2. Subjek dengan tipe metabolik MUO sebagian besar mempunyai 3 kelainan metabolik yaitu sebanyak 48% (13 subjek), kelaian metabolik paling sering dialami yaitu lingkar pinggang >80 cm, tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan profil HDL yang rendah.

Tabel 1: Rerata, Std.deviasi, median, dan p value Indeks Massa Tubuh (IMT), dan komponen sindrom metabolik

VariableRerata ± SDMedianp value
MHOMUOMHOMUO
IMT (kg/m2)26,8±1,531,2±4,426,730,9*0,000
Lingkar pinggang (cm)86,7±4,692,8±9,585,091,0*0,004
TD sistolik (mmHg)114,7±7,9126,5±8,7115,0130,0*0,000
TD diastolik (mmHg)78,2±7,686,7±9,177,084,5*0,001
Gula darah puasa (mg/dL)89,9±6,897,7±6,789,097,0*0,000
HDL (mg/dL)63,2±9,149,9±9,360,548,5*0,000
Trigliderida (mg/dL)85,1±20,2126,7±69,981,0107,0*0,005
HOMA-IR (uU/ml)2,8±1,24,2±1,82,74,1*0,002

Berdasarkan tabel 1. Seluruh subjek baik MHO dan MUO mempunyai lingkar pinggang >80 cm, rata-rata subjek dengan tipe MUO mempunyai IMT lebih besar, mempunyai tekanan darah diastolik 86,7 mmHg yang mana melewati ambang batas risiko sindrom metabolik yaitu 85 mmHg, selain itu juga mempunyai HDL buruk dibawah 50 mg/dL dan resistensi insulin.

Tabel 2: Karakteristik Subjek Berdasarkan Komponen Sindrom Metabolik

Variabeln (%)
MHO (n=26)MUO (n=26)
Lingkar Pinggang
Normal (< 80 cm)0 (0%)0 (0%)
Obesitas Sentral26 (100%)26 (100%)
Tekanan Darah Sistolik
Normal (< 130 mmHg)25 (96,2%)11 (42,3%)
Tinggi1 (3,8%)15 (57,7)
Tekanan Darah Diastolik
Normal (< 85 mmHg)21 (80,8%)13 (50%)
Tinggi5 (19,2%)13 (50%)
Gula Darah Puasa
Normal (60 -110 mg/dL)26 (100%)25 (96,2%)
Hiperglikemia0 (0%)1 (3,8%)
HDL
Normal (50 – 59 mg/dL)26 (100%)12 (46,2%)
Rendah0 (0%)14 (53,8%)
Trigliserida
Normal (< 150 mg/dL)26 (100%)18 (69,2%)
Hipertrigliseridemia0 (0%)8 (30,8%)
Resistensi Insulin
Normal (< 3,16 uU/mL)18 (69,2%)7 (26,9%)
Resisten8 (30,8%)19 (73,1%)

Berdasarkan tabel 2. Semua subjek mengalami obesitas sentral dan lebih dari 50% subjek dengan tipe metabolik MUO mempunyai tekanan darah sistolik dan diastolik tinggi, HDL rendah, serta mengalami resistensi insulin.

Tabel 3: Perbedaan Night Eating Syndrome, Pola Tidur, dan Konsumsi Sugar Sweetened Beverage

Variabeln(%)p value
MHO (n 26)MUO (n 26)
Night Eating Syndrome
Normal (skor: ≥11)23 (88,5)14 (53,8)*0,006
NES3 (11,5)12 (46,2)
Pola tidur
Baik (skor: ≥4)19(73,1)10(38,5)*0,012
Buruk7(26,9)16(61,5)
Konsumsi SSB
Normal (<50 gram/hr)21(80,8)22(84,6)0,714
Berlebih5(19,2)4(15,4)

Berdasarkan Tabel 2. Sebagian besar subjek dengan tipe metabolik MUO lebih banyak mengalami night eating syndrome dan pola tidur yang buruk. Terdapat perbedaan night eating syndrome yang signifikan pada kedua kelompok subjek (p=0,006). Terdapat perbedaan pola tidur yang signifikan pada kedua subjek (p=0,012). Sedangkan konsumsi SSB pada kedua kelompok subjek tidak ditemukan adanya pebedaan yang signifikan.

Subjek MUO banyak mengalami night eating syndrome dikarenakan subjek tidak sarapan pagi dan lebih banyak asupan makan setelah jam 7 malam. Mahasiswa obese dengan tipe metabolik MUO juga lebih banyak yang mengalami pola tidur yang buruk dikarenakan jadwal tidur yang tidak menentu, subjek lebih banyak menghabiskan waktu di malam hari untuk mengerjakan tugas hingga larut malam. Berbeda dengan konsumsi SSB pada kedua subjek, mereka sudah ada pemahaman untuk mengurangi penggunaan pemanis di dalam minuman.

IV. PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Subjek

Subjek dalam penelitian ini merupakan mahasiswi putri dengan rentang usia 19-24 tahun yang memiliki IMT ≥25 kg/m2 dengan mengelompokkan subjek berdasarkan komponen kelainan metabolik yang dimiliki, yaitu obesitas dengan tipe MHO dan MUO. Terdapat perbedaan yang signifikan pada komponen sindrom metabolik antara kedua kelompok. Berdasarkan hasil penelitian, subjek dengan tipe MUO memunyai IMT yang lebih besar, hal tersebut sejalan dengan penelitian Sugondo, bahwa IMT sangat berkaitan dengan sindrom metabolik dikarenakan persebaran lemak tubuh. Besarnya persebaran lemak sangat berkaitan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas di berbagai populasi. Diketahui juga semua subjek memiliki lingkar pinggang >80 cm yang berarti semua subjek mengalami obesitas sentral, dimana obesitas sentral merupakan faktor utama yang mendasari sindrom metabolik. Lingkar pinggang berhubungan dengan jaringan lemak subkutan dan jaringan intraabdomen Selain lingkar pinggang yang besar, cukup banyak juga subjek yang mengalami resistensi insulin dan profil HDL rendah yang berhubungan erat dengan diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler. Lebih dari setengah subjek dengan tipe metabolik MHO (52%) mempunyai 2 kelainan metabolik, yang mana subjek tersebut mendekati ambang batas kriteria tipe metabolik MHO.

4.2 Perbedaan Night Eating Syndrome, Pola Tidur, dan Konsumsi Sugar Sweetened Beverage

Pada analisis bivariat menunjukkan menunjukkan terdapat perbedaan night eating syndrome antara mahasiswa tipe MHO dan MUO (p value o,006). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Junko Yoshida, dimana perempuan dengan kebiasaan makan malam memiliki kemungkinan sindrom metabolik lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Rata-rata asupan energi subjek dengan MUO 1894 kkal lebih tinggi daripada subjek MHO yaitu 1675 kkal. Kebanyakan subjek dengan tipe MUO mengasup makanan diantara jam 811 malam, contohnya berupa makan besar, cemilan seperti martabak, roti bakar, seblak, dll. Rata-rata subjek membeli makanan jadi baik langsung atau lewat aplikasi pesan antar dikarenakan hampir semua subjek tinggal di rumah kost. Mereka lebih aktif makan di malam hari dikarenakan sibuknya jadwal perkuliahan yang membuat mereka tidak sarapan pagi, dan tidur sampai larut malam untuk mengerjakan tugas. Makan larut malam dapat menyebabkan pengurangan pengeluaran energi (penurunan kadar leptin) peningkatan sensasi nafsu makan, dan penambahan berat badan. Orang yang mengalami night eating syndrome juga memiliki durasi tidur yang lebih pendek, dan sering menunda waktu sarapan dan makan malam. Saat seseorang mengkonsumsi makanan di malam hari kadar glukosa, insulin, dan trigliserid meningkat secara signifikan, yang mengakibatkan berkurangnya sensitivitas insulin. Oleh karena itu, direkomendasikan makan tidak lebih dari jam 7 malam dan merencakan jadwal makan sebagai rutinitas keseharian untuk memutus siklus perilaku tidak sehat guna mencegah sindrom metabolik dan komponenya.

Terdapat perbedaan pola tidur antara mahasiswa tipe MHO dan MUO(p-value 0,012). Berdasarkan hasil pengukuran menunjukkan rata-rata pada kedua kelompok memiliki pola tidur yang buruk dilihat dari jumlah skor >5, namun ditemukan kelompok mahasiswa tipe metabolically unhealthy obese memiliki skor >5 lebih banyak jumlahnya yaitu sebanyak 16 mahasiswa, dibandingkan dengan mahasiswa tipe metabolically healthy obese yaitu sebanyak 7 mahasiswa. Pola tidur yang buruk pada kelompok mahasiswa tipe metabolically unhealthy obese disebabkan karena pada mahasiswa secara tidak sengaja terbentuk kebiasaan pola tidur dan pola makan kurang tepat yang menjadi sebuah kebiasaan. Mahasiswa sering tidur larut malam, bermain game, menonton serta kebiasaan tidur larut dan kemudian harus bangun pagi hari untuk kuliah, namun proporsi yang paling mengganggu jam tidur mahasiswa yaitu begadang mengerjakan tugas kuliah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Thirumagal, dkk pola tidur yang buruk menghasilkan konsekuensi metabolik, salah satunya yaitu penggunaan glukosa di malam hari yang dapat meningkatkan resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa pola tidur yang buruk berhubungan dengan obesitas, tekanan darah dan diregulasi glukosa.Orang dengan tipe metabolically unhealthy obese secara teratur terbangun pada malam hari(yaitu 16-20 kali sebulan), merasa tidak tenang di siang hari, merasa mengantuk di siang hari, dan kesulitan tidur.Pola tidur yang buruk dapat memengaruhi irama sirkadian. Irama sirkadian dalam keadaan normal berfungsi mengatur siklus biologi irama tidur sampai bangun, sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga untuk aktifitas, siklus irama sirkadian dapat mengalami gangguan apabila irama tersebut mengalami pergeseran. Jika siklus tidur sampai bangun sesuai dengan irama sirkadian akan menghasilkan kualitas tidur yang baik, begitu pula sebaliknya.National Sleep Foundation pada usia dewasa muda dianjurkan untuk tidur dengan waktu 7-9 jam/hari pukul 10 malam, dikarenakan pola tidur yang buruk berdampak pada penurunan leptin sebesar 18% dan peningkatan ghrelin 28% yang mengakibatkan meningkatnya rasa lapar, selanjutnya jika nafsu makan meningkat juga akan membuat glukosa, insulin dan trigliserid meningkat. Bila hal tersebut terjadi terus-menerus akan mengakibatkan berkurangnya sensitivitas insulin.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna konsumsi sugar sweetened beverage (SSB) antara mahasiswa tipe

MHO dan MUO (p-value 0,714). Hal tersebut mungkin terjadi dikarenakan pengambilan data asupan SSB dilakukan saat pandemi covid19 yang mengakibatkan mahasiswa jarang mengunjungi cafe atau tempat untuk nongkrong, dimana biasanya mereka memesan kopi, milk boba, minuman bersoda dll. Baik tipe metabolik MUO maupun MHO rata-rata mengkonsumsi SSB 40 gram/hari. Responden berjenis kelamin perempuan semua dimana mereka juga sudah ada pemahaman untuk mengurangi penggunaan pemanis di dalam minuman. Menurut Won O.Song lemak merupakan kontribusi utama tinginya asupan energi total, namun untuk kontribusi energi dari SSB memiliki kecenderungan tidak berhubungan dengan tingginya asupan energi total yang melebihi angka kecukupan asupan energi yang dianjurkan. Energi dari asupan SSB termasuk tinggi jika ≥10% dari asupan energi total atau >50 gram/hari dan normal jika <10% dari asupan energi total. Asupan SSB secara independen mempengaruhi lingkar pinggang dengan cara meningkatkan massa lemak tubuh. Energi yang berasal dari SSB yang diketahui berbentuk cairan tidak memberi rasa kenyang dibandingkan energi dari makan padat, sehingga banyak orang yang tetap mengkonsumsi banyak makanan walaupun sudah mengkonsumsi banyak minuman manis yang akan menyebabkan makan secara berlebihan. Pada saat itulah energi meningkatkan sintesis lemak tubuh. Meningkatnya lemak dalam tubuh dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan lingkar pinggang. Asupan SSB meningkatkan konsentrasi insulin di sirkulasi.

Kadar insulin yang tinggi serta rendahnya glukagon plasma merangsang uptake glukosa ke sel dan asam lemak menurunkan oksidasi lemak di dalam otot, sel adiposa, dan sel hati. SSB mengandung 150 kkal/porsi yang jika dikonsumsi berlebihan akan memperngaruhi keseimbangan energi dan dapat meningkatkan berat badan. Konsumsi SSB sebelum makan akan menyebabkan konsumsi energi yang lebih besar. Diet tinggi fruktosa tidak menstimulasi leptin, sehingga orang yang konsumsi tinggi fruktosa akan mengeluh akan makan lebih banyak energi yang akan meningkatkan berat badan secara cepat. Hasil penelitian menyatakan bahwa pemberian fruktosa menyebakan resistensi leptin, peningkatan akumulasi lemak intra abdominal, dan kelebihan berat badan. Hormon leptin berfungsi mengatur keseimbangan energi dan berat badan melalui interaksi dengan nukleus hipotalamus sehingga terjadi penurunan asupan makanan dan pengeluaran kelebihan energi.

V. KESIMPULAN

Pada kelompok MUO lebih banyak yang mengalami pola tidur yang buruk dan night eating syndrome. Sedangkan konsumsi sugar sweetened beverage pada kelompok MHO dan MUO masih tergolong normal. Salah satu upaya protektif pada remaja dalam menjaga metabolisme tubuh yaitu mengatur jadwal makan supaya tidak makan diatas jam 7 malam, merencakan jadwal makan sebagai rutinitas keseharian dan tidur 7-9 jam/hari pukul 10 malam serta membatasi konsumsi asupan gula dari minuman < 50 gram/hari.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih ditujukan kepada Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) Kemenristekdikti tahun 2020 yang telah memberikan dana untuk penelitian ini, Laboratorium Cito Setiabudi Semarang, mahasiswi di Kota Semarang yang telah bersedia menjadi subjek penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

KOMISI BIOETIKA PENELITIAN KEDOKTERAN/KESEHATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
Sekretariat: Gedung C Lantai I Fakultas Kedokteran Unissula
Jl. Raya Kaligawe Km 4 Semarang, Telp. 024-6583584, Fax 024-6594366

Ethical Clearance

No. 242/VII/2020/Komisi Bioetik

Komisi Bioetika Penelitian Kedokteran/Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang, setelah melakukan pengkajian atas usulan penelitian yang berjudul:

PERBEDAAN NIGHT EATING SYNDROME, POLA TIDUR, DAN KEBIASAAN
KONSUMSI SUGAR-SWEETENED BEVERAGE BERDASARKAN TIPE METABOLIK
PADA MAHASISWA OBESE

Peneliti Utama

: Anindita Putri Leksono

Pembimbing

: Fillah Fithra Dieny, S.Gz, M.Si

Dr. Etika Ratna Noer, S.Gz, M.Si

Tempat Penelitian: Universitas Diponegoro dengan ini menyatakan bahwa usulan penelitian diatas telah memenuhi prasyarat etik penelitian. Oleh karena itu Komisi Bioetika merekomendasikan agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Deklarasi Helsinki dan panduan yang tertuang dalam Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan (PNEPK) Departemen Kesehatan RI tahun 2004.

Semarang, 30 Juli 2020

Komisi Bioetika Penelitian Kedokteran/Kesehatan

Fakultas Kedokteran Unissula

Ketua, (dr. Sofwan Dahlan, Sp.F(K))

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama: ANGGARDHA AYU P

Umur/TTL: 22/Wonogin 3 Januan 1998

Alamat: JI Tembalang Selatan v

No Telepon/HP: 089 5800 246560

Bersedia berpartisipasi menjadi responden/subjek penelitian terkait "Asupan makan, aktifitas fisik, dan pola tidur pada mahasiswa dengan sebagai tipe metabolik" yang akan dilakukan oleh:

Nama: 1. Permata Laila Kurniastuti

Alamat: Tembalang

Instansi: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

No. HP: 089671982166

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya tanpa ada paksaan siapapun.
Mengetahui,
Peneliti
Peneliti
Peneliti

Permata Laila Kurniastuti

Semarang, Agustus 2020

Junita Devianty Nainaho

(ANEGAROHA AYU P)

Anindita Putri Leksono

NoNamaBBTBIMTLing, Ping g angTekana n DarahGDPHDLLDLTriglis eridaInsulinHOMA -IRPola TidurEnergi SSBNES
1.DK64,9160,8525,0880111/8178661027610,672,05normal144,2normal
2.AMA66,2162,0525,2187129/908860105807,271,58normal234,6normal
3.SKD64,5158,825,5884124/73935886504,591,05normal101,7normal
4.RS6415925,385114/778785101939,231,98sleep disorder132,7NES
5.AAS73167,526,0285117/698871128716,031,31normal366,3normal
6.ES58,2146,5527,185117/829371123575,71,31normal25,5normal
7.AAED77,8168,527,3892119/8281591181257,831,56normal110normal
8.SSA58,6145,527,6885109/74895810912010,292,26sleep disorder97,3normal
9.SY65,5151,5528,5294111/729951131748,652,11normal175,5NES
10.AE64,4150,428,489,2120/719753871068,582,05sleep disorder103normal
11.MR66,2160,125,894,1107/81996694818,922,18normal257,5normal
12.KB59,415325,485116/769858121859,172,22normal110normal
13.HR54,81482581106/7684831257314,062,91normal170normal
14.RIS62,8158,52582120/8799631148015,983,9normal130normal
15.APW70,1166,5525,2 781123/7799771405820,935,11normal173NES
16.SSW61,5154,525,7680103/6391531407922,054,95normal98normal
17.J64,515726,1785100/6997761309013,583,25normal256,2normal
18.NAR65,215527,1490103/737667519915,912,98sleep disorder162,4normal
19.URK64,7154,527,0885113/74885912010620,064,35sleep disorder207normal
20.KM70,3159,527,6191116/828673778118,884,01sleep disorder97normal
21.FA71,3158,528,3892112/8182611349214,52,93normal121normal
22.NLAR76,3163,4528,5 695119/6989511015511,962,63sleep disorder109normal
23.ANR77,416229,4990122/7885661339316,623,48normal130normal
24.VMI69,4153,2529,5589111/85975513611711,552,76normal129normal
25.AN67153,528,486,1107/7397571269312,32,94normal101normal
26.IDP55,6146,9525,7581132/89866311310416,693,54normal108normal
27.PI60,515325,8285131/989059876522,244,94normal225,4NES
28.MMA97,516038,09109138/94965210110618,754,44sleep disorder122normal
29.JA78,9162,6529,993142/799469987714,763,42normal109normal
30.RSO97,5157,539,392130/981045413610819,785,07sleep disorder105NES
31.CZL77,1162,529,295116/81101671687911,952,98sleep disorder122normal
32.AZ92,516434,39101115/761054115013522,415,8normal120NES
33.EP57,5148,0526,2381116/829548175919,732,28sleep disorder123NES
34.R65,7160,525,582108/729644119340,932,2normal85normal
35.SD91,3154,538,23104130/100101641478018,454,6sleep disorder140,4NES
36.AMLA69,7149,7531,0891131/80101561572911,112,77sleep disorder80normal
37.ETA77,815731,691,9137/8597561708910,032,4sleep disorder101normal
38.ESR73,6151,232,183,8111/8197488813534,868,34sleep disorder103NES
39.P66153,4528,0383130/9095371299714,83,47sleep disorder169NES
40.CFR89,515835,9112,1130/106100601559017,714,37normal152,7NES
41.SR92,815538,6108,8130/84905313511518,484,1normal142.1normal
42.FR62,314031,885,7130/8011062976018,455,01sleep disorder92NES
43.VS82,316430,690126/7783401727912,52,56normal21,1normal
44.YTA64,25154,526,988131/85915013721112,912,9sleep disorder138,2normal
45.SM65,814431,7391130/819449815817,914,15sleep disorder119normal
46.NJ71,6159,128,386,6112/90923811419328,326,43normal153normal
47.RK70,2515828,1489123/92844812028625,955,38normal201,3normal
48.GGAW58,4152,325,1882124/89954017411712,782,99normal102NES
49.DP65,515925,981,6135/1081074610115415,894,19sleep disorder204NES
50.K74,5155,430,8102,2131/831065614117725,046,55sleep disorder197normal
51.KC90163,433,7104,1126/791073915729928,717,58sleep disorder180NES
52.AMK91,516334,4100126/911004119019714,613,6sleep disorder178normal

Lampiran 4: Kuisioner Data Diri Subjek

Kuisioner Identitas Subjek Penelitian
Kode Subjek:
Tanggal Pengukuran:

A. Identitas Subjek Penilitian
Nama:
Jenis Kelamin:
Tanggal Lahir:
Usia:
Alamat:
No HP:
Fakultas/Jurusan:

B. Data Antropometri
Tinggi Badan (TB): cm
Berat Badan (BB): kg
Lingkar Pinggang: cm
Tekanan Darah: mm/Hg

Lampiran 5: Kuisioner Pola Tidur

Pittsburg Sleep Quality Index (Psqi)

Kuesioner Pola Tidur

PETUNJUK

Pertanyaan berikut ini berkaitan dengan kebiasaan tidur yang biasa Anda lakukan selama seminggu lalu. Dimohon Anda menjawab semua pertanyaan

A. JAWABLAH PERTANYAAN BERIKUT INI PADA TITIK-TITIK YANG DISEDIAKAN!

  1. Selama sebulan terakhir, kapan (jam berapa) biasanya Anda tidur pada malam hari?

  2. Selama sebulan terakhir, berapa lama (dalam menit) Anda perlukan untuk dapat tertidur tiap malam?

...... 3. Selama sebulan terakhir, kapan (jam berapa) biasanya Anda bangun di pagi hari?

...... 4. Selama sebulan terakhir, berapa jam lama tidur Anda yang sebenarnya tiap malam? (hal ini erbeda dengan jumlah jam yang Anda habiskan di tempat tidur)

B. BERIKAN TANDA (V) PADA SALAH SATU JAWABAN YANG ANDA ANGGAP SESUAI!

NoPertanyaanTidak Pernah1x seminggu2x seminggu≥3x seminggu
5a.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalamitidak dapat tidur di malam hari dalam waktu 30 menit
5b.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalami bangun tengah malam atau dini hari
5c.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalami harus bangun di malam hari untuk ke kamar mandi
5d.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalami tidak dapat bernapas dengan nyaman saat tidur di malam hari
5e.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalami batuk atau mendengkur keras saat tidur di malam hari
5f.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda merasa kedinginan atau menggigil demam saat tidur di malam hari
5g.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda merasa terlalu kepanasan saat tidur di malam hari
5h.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalamimimpi buruk saat tidur di malamhari
5i.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda merasakesakitan saat tidur di malamhari (misal: kram, pegal, nyeri)
5j.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalami hal lain yang membuat Andaterganggu di malam hari, tolongjelaskan:.................Berapa sering Anda mengalamikesulitan tidur karena alasantersebut?
6.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Andamengonsumsi obat yang bisa menyebabkan rasa kantuk?(diresepkan oleh dokter atauobat bebas)
7.Selama seminggu yang lalu,seberapa sering Anda mengalamikesulitan untuk tetapterjaga/segar/tidak merasangantuk ketika makan ataumelakukan aktivitas lain?
No.PertanyaanTidak AntusiasKecilSedangBesar
8.Seberapa antusias Anda ingin menyelesaikan masalah yang Anda hadapi

Lampiran 6: Kuisioner Night Eating Syndrome

No.PertanyaanSangat BaikBaikKurangSangat Kurang
9.Bagaimana kualitas tidur Anda selama 1 minggu yang lalu

Night Eating Diagnostic Questionnaire (Nedq) Kuesioner Night Eating Syndrome Silakan Anda menjawab dengan angka atau memberi contreng pada pilihan yang tersedia atau coret yang tidak perlu pada pertanyaan dengan tanda (*)

No.PertanyaanJawaban
1.Jam berapa biasanya Anda tidur (mematikan lampu untuk tidur)?
2.Jam berapa biasanya Anda bangun pada pagi hari?
3.Apakah Anda sering kehilangan nafsy makan pada pagi hari?Ya/Tidak*
4.Seberapa sering Anda sarpan pagi? (setelah bangun tidur)____kali/minggu
5.Pukul berapa biasanya Anda makan pertama kali?
6.Berapa banyak makanan yang Anda konsumsi setelah jam 7 malam?Nyatakan dalam persen dari o sampai 100 (diminta spesifik, misal 15%)____%
7.Jam berapa biasanya Anda makan malam?
8.Berapa banyak makanan yang Anda konsumsi setelah makan malam?Nyatakan dalam persen dari o sampai100? (diminta spesifik, misal 15%)a. Sudah berapa lama Anda mengkonsumsi makanan seperti yang disebutkan di atas setelah makan malam?____%%____tahun____bulan
9.Apakah Anda sering merasakan keinginan unuk makan pada waktu setelah makan malam dan sebelum tidur atau selama malam hari?Ya/Tidak*
10.Apakah Anda mempunyai masalah tidur?a. Jika Ya, berapa kali dalam seminggu?Ya/Tidak****kali/minggu
11.Apakah Anda mempunyai masalah dalam mempertahankan tidur?a. Jika Ya, berapa kali seminggu?b. Jika Ya, berapa kali dalam seminggu Anda bangun dari tempat tidur Anda setelah bangun?Ya/Tidak****kali/minggu____kali/minggu
12.Berapa kali dalam seminggu Anda bangun dari tidur untuk menggunakan kamar mandi?____kali/minggu
13.Apakah Anda terbangun dari tidur malam dan setelahnya Anda makan malam?Jika Tidak, lanjut ke pertanyaan nomor 14a. Jika Ya, berapa kali dalam seminggu?b. Sudah berapa lama Anda terbangun dari tidur malam untuk makan?c. Apakah Anda percaya bahwa Anda harus makan agar dapat tidur kembali setelah terbangun pada malam hari?d. Seberapa sadarkah Anda akan kebiasaan makan pada malam hari?e. Seberapa sering Anda mengingat apa yang Anda makan selama malam hari pada keesokan harinya?Ya/Tidak****kali/minggu____tahun____bulanYa/Tidak*
Tidak sama sekali/Sedikit /Sangat*Tidak sama sekali/Sedikit /Sangat*
14.Apakah Anda menganggap diri Anda sebagai night eater?Jika Tidak, lanjut ke pertayaan nomor 15a. Jika Ya, seberapa kecewanya Anda tentang kebiasaan tersebut?b. Jika Ya, seberapa menggangunya kebiasaan tersebut terhdapa diri Anda atau kehidupan keseharian Anda?c. Sudah berapa lama Anda mengalami kebiasaan makan pada malam hari ini?Ya/Tidak*Tidak sama sekali/Sedikit /Sangat*Tidak sama sekali/Sedikit /Sangat*__Kurang dari 3 bulan__3-6 bulan--6-12 bulan__lebih dari 1 tahun
15.Apakah Ada mempunyai riwayat henti nafas saat tidur?Ya/Tidak*
16.Apakah Anda pernah merasa depresi atau murung dikebanyakan hari?Ya/Tidak*
17.Secara umum, kapan Anda merasa depresi atau murung yang paling parah dalam sehari?____saat pagi hari____saat siang hari____saat malam hari____tidak dapat dijelaskan
18.Apakah sekarang Anda sedang menjalani diet untuk menurunkan berat badan?Ya/Tidak *
a. Jika Ya, berapa banyak berat badan yang berhasil Anda turunkan dalam waktu 3 bulan?____kg
19.Berapa berat badan dan tinggi Anda sekarang?____cm____kg

Lampiran 7: Kuesioner Konsumsi Sugar Sweetened Beverage

Semi-Quantitative Food Frequencu 1 Bulan Terakhir Kuesioner Konsumsi Sugar Sweetened Beverage
Isilah kolom di bawah ini sesuai dengan frekuensi komsumsi Anda

Jenis MinumanUkura nFrekuensiJumlah yg dikosumsiRata -rata x/HBera t (g/H)Total kalori (Kkal)
x/ Hx/ Mx/ BTidak Perna hUkura nm L
Minuman rasa buah
ABC250 mL
1000 mL
Ale-ale200 mL
Buavita125 mL
250 mL
1000 mL
Country choice250 mL
200 mL
1000 mL
Floridina360 mL
Frutang200 mL
Happy juice200 mL
300 mL
Jasjus250 mL
Marimas8 g
Minute maid pulpy240 mL
350 mL
Nutrisari29 g
200 mL
300 mL
Pop ice25 g
Tebs330 mL
500 mL
Jenis MinumanUkura nFrekuensiJumlah yg dikosumsiRata -rata x/HBera t (g/H)Total kalori (Kkal)
x/ Hx/ Mx/ BTidak Perna hUkura nm L
MINUMAN RASA BUAH
Oki jeli drink150 mL
220 mL
UC 100140 mL
600 mL
Sari kacang hijau150 mL
250 mL
Sari kelengkeng200 mL
TEH
Frestea350 mL
500 mL
Fruit tea200 mL
300 mL
500 mL
Futami 17485 mL
Joytea500 mL
Mirai ocha450 mL
Mountea200 mL
NU green tea500 mL
Pucuk harum480 mL
350 mL
Teh kotak300 mL
Teh sosro200 mL
450 mL
Teh gelas250 mL
350 mL
500 mL
Thai tea400 mL
500 mL
Jenis MinumanUkuranFrekuensiJumlah yg dikosumsiRata -rata x/HBera t (g/H)Total kalori (Kkal)
x/ Hx/ Mx/ BTidak Perna hUkura nmL
KOPI
ABC white coffee27 g
Good day20 g
200 mL
250 mL
Indocafe coffemix20 g
Kapal api7 g
Kopiko 78C250 mL
Luwak white coffee20 g
Nescafe200 mL
Torabika28 g
Top coffee31 g
240 mL
SOFT DRINK
A&W355 mL
Big cola535 mL
3100 mL
Calpico soda320 mL
Coca-cola250 mL
330 mL
425 mL
1500 mL
Fanta250 mL
330 mL
425 mL
1500 mL
Sprite250 mL
330 mL
425 mL
Jenis MinumanUkura nFrekuensiJumlah yg dikosumsiRata -rata x/HBera t (g/H)Total kalori (Kkal)
x/ Hx/ Mx/ BTidak Perna hUkura nm L
MINUMAN ISOTONIK/ENERGY DRINK
Iso plus350 mL
Coolant350 mL
Mizone250 mL
Pocari330 mL
350 mL
500 mL
2000 mL

Lampiran 8: Output Analisis Statistik Crosstab NES

Tipe MetabolikTotal
MHOMUO
nesnormal nes231437
31215
Total262652

Chi-Square Tests NES

ValuedfAsymp. Sig.(2sided)Exact Sig.(2sided)Exact Sig. (1sided)
Pearson Chi-Square $7,589^a$ 1,006
$Continuity Correction^b$ 5,9961,014
Likelihood Ratio7,9941,005
Fisher's Exact TestLinear-by-Linear1,013,006
Association7,443,006
N of Valid Cases52

Crosstab Pola Tidur

Tipe MetabolikTotal
MHOMUO
Pola Tidur191029
baik buruk71623
Total262652

Chi-Square Tests Pola Tidur

ValuedfAsymp. Sig. (2 sided)Exact Sig. (2 sided)Exact Sig. (1 sided)
Pearson Chi-Square $6,315^a$ 1,012
Continuity Correctionb4,9901,026
Likelihood Ratio6,4571,011
Fisher's Exact Test,025,012
Linear-by-Linear Association6,1931,013
N of Valid Cases52

Crosstab SSB

Tipe MetabolikTotal
MHOMUO
ssbnormal berlebih212243
549
Total262652

Chi-Square Tests SSB

ValuedfAsymp. Sig. (2 sided)Exact Sig. (2 sided)Exact Sig. (1 sided)
Pearson Chi-Square $,134^a$ 1,714
Continuity Correctionb,00011,000
Likelihood Ratio,1351,714
Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association,1321,7171,000,500
N of Valid Cases52

Conflict of Interest

The authors declare no conflict of interest.

Ethical Approval

Not applicable

Data Availability

The datasets used in this study are openly available at [repository link] and the source code is available on GitHub at [GitHub link].

Funding

This work did not receive any external funding.

References

28 Cites in Article

Cite this article

Generating citation...

Related Research

  • : NLM Code: WD 210
  • Version of record

    v1.0

  • Issue date

    14 November 2025

  • Language

    id

Article Placeholder
Open Access
Research Article
CC-BY-NC 4.0
LJMHR Volume 25 LJMHR Volume 25 Issue 9, Pg. 68-91
Special Issue

Launch a focused special issue to highlight research, emerging trends, and expert insights in your academic field.

Support